| Asep Kamaludin SIP. |
Kuningan News - Dewasa ini rasa aman telah menjadi sesuatu yang sulit dicapai. Di banyak tempat terjadi kekacauan, kekerasan, teror, ketidak-adilan, ketimpangan yang kesemuanya mempengaruhi pikiran manusia, hingga berdampak pada ketidak-nyamanan dan ketidak-amanan. Padahal, setiap orang mendambakan kondisi dan suasana aman. Rasa aman adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, yang jika dikalkulasi lebih berharga daripada kesehatan. Seseorang yang sakit mungkin dapat tertidur, tetapi yang takut, dapat dipastikan tidak dapat tidur, mungkin hanya sekedar hilang kantuknya saja. Bagi yang sakit bisa merasa aman dan tidak merasakan penyakitnya, akan tetapi bagi yang tidak merasa aman, walaupun sehat, ia akan merasa terganggu hidupnya.
Secara etimologi perkataan aman berasal
dari bahasa Arab yang memiliki akar kata dan pengertian sama dengan iman dan amanah.
Tidak terlalu sulit menemukan ketiga kata tersebut dalam al-Qur’an. Al-Qur’an
menjelaskan panjang lebar diberbagai ayat relasi antara iman dan aman. Maka,
sebuah keharusan adanya hubungan aman dan iman. Implikasi dari beriman,
seseorang akan memiliki rasa aman dan rasa nyaman, Akan tetapi, dalam realitas
belum tentu benar. Banyak orang yang menunjukkan penampilan iman, menjadi orang
yang beriman, namun dalam aktivitas memperlihatkan rasa takut, rasa khawatir,
bahkan gelagat ketakutan.
Pada dasarnya orang yang beriman kepada Allah adalah
orang yang kuat. Kuat batin dan kuat jiwanya, sehingga tidak akan takut
menghadapi hidup dengan segala tantangan dan masalahnya. Kekuatan orang yang
beriman karena adanya harapan kepada Allah, karena itu dia tidak akan putus
asa. Kekuatan ini berpangkal kepada keyakinan bahwa Allah Sang Penyantun (al-rauf),
Sang Penyayang (al-rahman), Sang Pelindung (al-Muhaimin) dan Sang
Pemberi Rasa Aman (al-mu’in) kepada para hamba-Nya.
Menciptakan rasa aman
dalam Islam berakar
pada tauhid (mengimani Allah sebagai
Al-Mu'min/Pemberi Keamanan) dan mewujudkan keselamatan bagi sesama melalui
lisan serta perbuatan. Ini
mencakup ketenangan jiwa, perlindungan kehormatan, harta, serta terciptanya
lingkungan yang damai, harmonis, dan bebas dari rasa takut.
Maka rasa aman, sesungguhnya diperoleh dari keyakinan dan
kesadaran orang yang beriman bahwa dia benar-benar bersandar (tawakkal)
kepada Yang Maha Kuasa. Karena itu, banyak penjelasan dalam al-Qur’an yang
mejelaskan bahwa beriman dan berbuat baik tidak akan merasa takut dan tidak
pula akan merasa kuatir (QS. Al-An’am: 48). Ditambahkan dalam ayat lain
bahwa “Mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian bersikap
teguh, maka para malaikat akan turun kepada mereka, dan berkata, ‘jangan kamu
takut, dan jangan pula kamu kuatir, serta bergembiralah dengan surga yang
dijanjikan kepadamu. Kami (para malaikat) adalah teman-temanmu dalam hidup di
dunia dan di akherat…(QS. Fushshilat: 30).
Prinsip Utama Menciptakan Rasa Aman (Perspektif
Islam):
·
Tauhid dan Ketakwaan: Mengandalkan
Allah sebagai satu-satunya sumber perlindungan sejati, sehingga hati tenang
dari rasa was-was dan takut.
·
Menebarkan Kedamaian (Salam): Muslim sejati
adalah yang mampu memberikan keamanan bagi orang lain dari lisan dan tangannya.
Menyebarkan salam adalah wujud energi positif untuk menghadirkan rasa aman di
lingkungan.
·
Menjaga Amanah: Amanah berakar
dari kata amnu (keamanan), yang berarti menjaga kepercayaan
adalah wujud menciptakan ketenangan jiwa dan stabilitas sosial.
·
Keadilan dan Kesetaraan: Islam menuntut
keadilan agar setiap individu terjaga hak-haknya, baik dalam kehormatan, harta,
maupun privasi.
·
Perilaku Sosial yang Baik: Menghindari
tindakan yang merugikan, seperti gibah, fitnah, atau kekerasan, yang dapat
merusak suasana aman.
Berdasarkan garansi Tuhan di atas, jika kita benar-benar
beriman, pastinya kita dihiasi rasa aman, tanpa pernah kuatir dan takut dalam
menjalani hidup yang serba susah ini. Sikap ini akan berimplikasi luas, seperti
kita akan menjadi manusia penuh percaya diri (self convidence). Menurut
teori psikologi, percaya diri adalah pangkal kesehatan jiwa yang akan membuat
penamapilan simpatik, komunikatif, toleran, dan damai, tidak gampang tersinggung
dan berprasangka buruk terhadap orang lain. Orang yang memiliki rasa percaya
diri akan dapat menghayati pesan ilahi “Hai orang yang beriman, jagalah
dirimu sendiri. Orang yang sesat tidak akan berpengaruh kepadamu jika kamu
memang mendapata petunjuk” (QS. Al-Ma’idah: 10).
Dengan demikian, logika terbaliknya dalah siapa yang
tidak memiliki rasa aman, maka tidak mungkin dapat memberi atau
mendesiminasikan rasa itu kepada orang lain. Memberi rasa aman kepada orang
lain adalah bagian penting dari ajaran Islam. Tuhan menegaskan dirinya sebagai
Sang Pemberi rasa aman yang sekaligus menuntut agar rasa aman itu disebarkan
kepada orang lain, masyarakat dan lingkungannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW
bersabda “yang disebut orang Islam adalah orang yang mampu menebarkan
keselamatan dan rasa aman kepada orang lain” (al-muslimu man salima
al-muslimun min lisanihi wa yadihi).
Mewujudkan rasa aman adalah bagian tak
terpisahkan dari iman dan merupakan jaminan kehidupan yang baik (hayatan
thayyibah)
Oleh : Asep Kamaludien, S.IP
Kasi Trantibum Kecamatan Sindangagung