Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Menenun Daya, Melawan Keterbatasan Melalui Sekolah Luar Biasa

 Murid SLB C YPALB Perwari Kuningan (foto: dok. SLB) Kuningan News - Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya tunagrahita, bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah proses internalisasi nilai kemandirian yang kompleks. Hal inilah yang menjadi fokus utama dalam kegiatan observasi edukatif di SLB C YPALB Perwari Kuningan. Sekolah yang berlokasi di Ancaran, Kuningan ini menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan potensi siswa dengan hambatan intelektual dan juga beberapa hambatan lainnya yang ada di sekolah tersebut.  Bagaimana proses belajar siswa ABK?   Mengingat keterbatasan dalam memahami instruksi kompleks, guru memecah satu tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang sistematis. Sebagai contoh, saat mengajarkan cara belajar dengan menggunakan media serta model yang interaktif untuk para siswa.  Dimensi Psikososial dan Lingkungan Inklusif Selain aspek kognitif, sekolah ini berperan vital dalam membangun kecerdasan emosional dan...

APBN untuk Pesantren Ambruk: Investigasi Dulu, Jangan Ceroboh!

  Achmad Nur Hidayat K uningan News - Publik bertanya: apakah pantas dana APBN digunakan untuk membangun kembali Pesantren Al-Akhoziny yang ambruk, padahal indikasi awal menunjukkan ada kelalaian konstruksi? Pertanyaan ini menyentuh batas antara empati sosial dan tanggung jawab fiskal.  Negara tentu wajib hadir menolong korban, namun tanggung jawab kemanusiaan tidak boleh meniadakan prinsip akuntabilitas.  Uang APBN adalah uang rakyat, hasil pajak dari warung kecil hingga pabrik besar. Maka setiap rupiah harus digunakan dengan alasan yang dapat diuji secara moral dan hukum. Empati Tidak Boleh Menutupi Kelalaian Jika keruntuhan terjadi akibat bencana alam, tentu logis bila negara menyalurkan dana darurat.  Tapi bila disebabkan oleh kesalahan manusia—kelalaian kontraktor, pelanggaran standar bangunan, atau pengawasan yang lemah—maka negara tidak bisa langsung menjadi “penebus dosa”. Analogi sederhananya: ketika seseorang menabrak mobil tetangga karena lalai, yang perta...

Saintek Berdampak, Ketika Ilmu Pengetahuan Tak Lagi Berdiam di Menara Gading

Oleh: Agus Saeful Anwar (Dosen Prodi PGSD UM Kuningan) Kuningan News - Pernah ada masa ketika laboratorium dipandang sebagai ruang paling sakral bagi kaum akademisi. Dari tempat itulah lahir berbagai publikasi, seminar ilmiah, hingga pengakuan akademik. Namun, tidak selalu dari sana muncul jawaban atas persoalan nyata di masyarakat. Itulah kritik lama terhadap wajah pendidikan tinggi kita. Terlalu akademik, terlalu abstrak, dan kerap berputar-putar di ruang diskusi tanpa pernah benar-benar menyentuh tanah. Maka, ketika program Saintek Berdampak diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebuah harapan lama seolah dihidupkan kembali. Agar ilmu pengetahuan bisa turun gunung, menjejak tanah, dan menyingsingkan lengan baju. Program ini secara garis besar membawa pesan penting, yakni ilmu harus berguna, dan kampus harus terasa. Terasa di kehidupan sehari-hari, terasa manfaatnya di pasar rakyat, di pabrik UMKM, bahkan di kantor desa. Tidak lagi eksklusif untuk sem...