Langsung ke konten utama

Lereng Gunung Bukan Ruang Abu-Abu: Pembiaran Negara dan Bencana yang Menunggu Waktu

Imam Baha, Ketua IPPMK JADETABEK.

Kuningan News - Di lereng gunung sering dianggap masalah teknis: masalah izin, tata ruang, atau pelanggaran administratif. Namun ketika kerusakan itu terjadi bertahun-tahun dan terus berlanjut, masalah teknis tidak lagi terjadi. Ia berubah menjadi masalah kebijakan dan tanggung jawab negara.

Di Kabupaten Kuningan, kerusakan di lereng Gunung Ciremai bukan cerita baru. Kawan-kawan dari kalangan mahasiswa ataupun warga sipil sudah berulang kali menuliskannya. Hutan rusak, lahan gundul, fungsi kawasan berubah. Ironisnya, peringatan itu sudah muncul sejak lebih dari satu dekade lalu. Namun hingga kini, luka di punggung Ciremai belum benar-benar sembuh. Jika peringatan datang berulang kali dan tidak ditindaklanjuti, maka masalahnya bukan kurang informasi. Masalahnya adalah pembiaran.

Dari Pelanggaran Menjadi Karnaval

Secara prinsip, lereng gunung adalah kawasan perlindungan dan penyangga. Di sanalah fungsi resapan udara, penimbunan longsor, dan penyangga kehidupan masyarakat di hilir berada. Prinsip ini bukan jargon lingkungan, melainkan soal keselamatan masyarakat. Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Aktivitas yang merusak tutupan lahan terus berlangsung. Pengawasan lemah. Penindakan nyaris tak terdengar. Ketika pelanggaran dibiarkan berulang-ulang, negara secara tidak langsung memberi sinyal bahwa aturan bisa dinegosiasikan. Di titik ini, pelanggaran tidak lagi bersifat insidental. Ia menjadi kebiasaan yang dinormalisasi oleh kebijakan yang lemah.

Belajar dari Guci, Jangan Menunggu Korban

Tragedi banjir di kawasan Guci, lereng Gunung Slamet, seharusnya menjadi peringatan keras. Di sana, aktivitas di kawasan hulu dan perubahan tutupan lahan berakhir pada bencana di hilir. Korban jiwa dan kerusakan organisasi menjadi harga yang harus dibayar.

Gunung Slamet dan Gunung Ciremai tentu berbeda secara teknis. Namun pola kebijakannya serupa: kawasan hulu dianggap sebagai ruang ekonomi jangka pendek, sementara risiko ekologis jangka panjang diabaikan. Saat ini, sejumlah wilayah di sekitar lereng Gunung Ciremai mulai mengalami banjir dan gangguan lingkungan. Skalanya mungkin belum sebesar Guci. Tetapi pertanyaannya sederhana dan mendesak: apakah pemerintah daerah akan bertindak sekarang, atau menunggu sampai ada korban?

Negara yang Selalu Datang Terlambat

Kebijakan publik seharusnya mencegah, bukan sekedar merespons. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Negara baru hadir setelah bencana terjadi, setelah rumah terendam, setelah warga menderita kerugian. Ketika kerusakan di lereng Gunung Ciremai dibiarkan bertahun-tahun tanpa koreksi yang tegas, pemerintah daerah sedang menumpuk menunda tanggung jawab. Bencana tidak dapat dicegah, hanya ditunggu. Dan akibatnya bukanlah para pengambil keputusan, melainkan masyarakat di hilir, warga desa, dan kelompok rentan yang tidak pernah diajak bicara pada saat kawasan hulu dieksploitasi.

Kerusakan lingkungan sering dibungkus dengan alasan alam atau perubahan iklim. Alasan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi menjadi berputar jika digunakan untuk menutup kegagalan pengawasan dan penegakan aturan. Banjir dan krisis lingkungan di kawasan lereng gunung adalah hasil akumulasi keputusan manusia: keputusan memberi izin, keputusan menutup mata, dan keputusan untuk tidak bertindak meskipun peringatan sudah jelas. Dalam konteks ini, pembiaran bukanlah sikap netral. Pembiaran adalah pilihan politik.

Jika pemerintah daerah melindungi warganya dengan serius, ada langkah minimum yang tidak bisa lagi dilakukan:

1.      Audit terbuka terhadap seluruh pemanfaatan lahan di lereng Gunung Ciremai. Data harus dibuka, bukan sekedar janji.

2.      Penegakan aturan tanpa kompromi terhadap aktivitas yang melanggar fungsi kawasan lindung.

3.      Menghentikan normalisasi pelanggaran atas nama ekonomi jangka pendek.

4.      Ubah paradigma kebijakan: dari menunggu bencana menjadi mencegah bencana.

Lereng gunung bukan ruang abu-abu. Ia bukan wilayah yang mengkompromikan kepentingan sesaat dan keselamatan masyarakat. Ketika negara memilih membiarkan kerusakan di kawasan hulu, negara sedang menulis skenario bencana, tinggal menunggu waktu untuk terjadi. Tragedi di Guci seharusnya cukup menjadi pelajaran. Jika Kuningan tidak belajar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hutan di lereng Gunung Ciremai, tetapi nyawa dan masa depan warganya sendiri. Dan ketika hal itu terjadi, tidak ada lagi alasan yang layak disebut kebijakan.

Oleh: Imam Baha, Ketua Umum IPPMK JADETABEK

HOT NEWS

Potret Kekayaan 7 Pengusaha di Kabupaten Kuningan

Kuningan News - Kabupaten Kuningan, meski dikenal dengan keindahan alam dan wisata pegunungannya, juga merupakan rumah bagi beberapa pengusaha yang sukses di berbagai sektor bisnis. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa Kuningan memiliki potensi ekonomi yang berkembang pesat, dipicu oleh inovasi dan ketekunan para pelaku usaha lokal. Salah satu sektor yang dominan di wilayah ini adalah ritel. Beberapa toserba besar menjadi andalan masyarakat Kuningan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para pengusaha yang sukses di sektor ini berhasil mengelola jaringan ritel yang luas dan berkontribusi signifikan terhadap roda perekonomian daerah. Keberhasilan mereka tak lepas dari strategi bisnis yang tepat dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang dinamis. Selain ritel, sektor properti dan konstruksi juga menjadi pilar penting bagi perekonomian Kuningan. Beberapa perusahaan besar di bidang ini terlibat dalam pembangunan infrastruktur yang tidak hanya bermanfaat bagi daerah, tetapi...

Ketua Parpol Didominasi Pria, Jika Amih Tuti Ketua Gerindra Maka Jadi Daya Tarik

Kuningan News - Panasnya suhu di internal Gerindra Kuningan seiring momen bursa ketua partai, memantik pihak luar turut mengeluarkan pandangannya. Salah satunya, Soejarwo, pengamat daerah yang kerap memantau pergerakan politik di kota kuda.  "Saya melihat sekarang ini ketua parpol di Kuningan didominasi kaum pria. Nah, kalau Amih Tuti (Hj Tuti Andriani) yang ditunjuk, maka ini bakal jadi daya tarik tersendiri," ujar pria yang akrab disapa Mang Ewo itu, Senin (12/10/2026).  Keberadaan sosok perempuan sebagai pucuk pimpinan parpol terlebih sebagai sosok pimpinan eksekutif (wakil bupati), menurut dia, juga akan mengingatkan masyarakat terhadap sosok Almarhumah Hj Utje Ch Suganda saat memimpin Kuningan, dengan sentuhan lembut keibuan. "Wajar kalau akan banyak pihak yang gerah dan terusik jika Amih Tuti yang terpilih. Karena banyak kelebihannya. Patut diduga keras, ada yang akan merasa "kurang nyaman", jika DPP Gerindra akhirnya mempercayakan kepadanya untuk menjadi...

Dua Pabrik Sepatu Dapat Menyerap Belasan Ribu Tenaga Kerja

  Kuningan News – Dua pabrik sepatu berskala multinasional direncanakan bakal berdiri di Kabupaten Kuningan. Hal itu diamini Kepala DPUTR Kuningan I Putu Bagiasna MT. Ia mengamini, ada setidaknya 3 perusahaan besar yang melirik Kuningan sebagai pabrik, dimana dua diantaranya adalah pabrik sepatu, sementara satu adalah pabrik garmen. Putu Bagiasna, mulanya menjelaskan progress Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang saat ini tinggal menunggu Persub. Dalam draft Revisi RTRW itu, dimuat beberapa wilayah yang dicanangkan Pemkab Kuningan sebagai KPI (Kawasan Peruntukan Industri). Putu menjamin, KPI itu berada di lahan tidak produktif seperti Cidahu, Cimahi, serta sebagian Kecamatan Japara. “RTRW kami belum direvisi sejak 15 tahun lalu. Terakhir Perda 26 tahun 2011. Kami berharap,  tahun ini kita akan merevisi pekerjaan besar, RTRW 2026-2046,” kata Putu Kamis (25/9/2026). Di dalam revisi RTRW tersebut, sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat serta tingkat kebutu...

Narasi Ilmiah Analisis Dampak Lingkungan Geothermal

  Analisis Dampak Lingkungan Kegiatan Pengembangan Energi Panas Bumi Kuningan News - Pengembangan energi panas bumi (geothermal) merupakan salah satu alternatif penyediaan energi terbarukan yang memiliki potensi besar dalam mendukung transisi menuju sistem energi rendah karbon. Energi panas bumi memanfaatkan panas yang tersimpan di dalam reservoir bawah permukaan untuk menghasilkan energi listrik maupun energi panas secara langsung. Meskipun memiliki keunggulan berupa emisi gas rumah kaca yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil, kegiatan eksplorasi, konstruksi, pengeboran, produksi, hingga pascaoperasi panas bumi tetap berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan sehingga diperlukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara sistematis. Pada tahap eksplorasi dan pengeboran, dampak lingkungan utama dapat berupa perubahan tutupan lahan, pembukaan akses jalan dan well pad, peningkatan erosi dan sedimentasi, gangguan terhadap habitat serta keanekaragama...

Bupati Diminta Jangan Cuma Menebar Hoax Soal Oknum Calo Perizinan

Kuningan News - Pernyataan Bupati Dian Rachmat Yanuar terkait dugaan adanya oknum perizinan yang bermain, menuai kritik dari Pengamat Kebijakan Daerah, Soejarwo. Ia meminta agar orang nomor satu di kota kuda ini tidak hanya sekadar menebar narasi di ruang publik melainkan harus diiringi tindakan konkrit.  "Jangan cuma menebar narasi di ruang publik seperti itu dong. Buktikan dan berikan sanksi, jika memang sudah mengantongi nama oknumnya. Kalau hanya berkoar-koar, nanti dianggapnya penebar hoax," kata Mang Ewo, sapaan akrabnya. Menurut dia, persoalan integritas dalam pelayanan perizinan tidak cukup diselesaikan melalui peringatan atau pernyataan keras semata. Pemerintah daerah perlu menunjukkan keseriusan melalui penanganan laporan, pemeriksaan dugaan pelanggaran, serta penjatuhan sanksi apabila pelanggaran tersebut terbukti. “Publik tentu menunggu langkah nyata, bukan sekadar pernyataan. Kalau memang ada aparatur yang menyalahgunakan kewenangan, meminta imbalan, atau terlib...

Mengenal Desa Galaherang: Jejak Sejarah, Keindahan Alam, dan Kuliner Khas yang Menggoda

Kuningan News -  Desa Galahaerang merupakan salah satu desa yang berada di wilayah hukum Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan, awalnya merupakan suatu daerah yang merupakan pembukaan lahan oleh para pejuang Mataram yang berekspansi ke wilayah tersebut (Galaherang). Mereka mendirikan sebuah tempat pemukiman. Beberapa nama para pejuang yang dikenal bernama Syekh Jamaludin Malik. Ia mempunyai dua orang putra bernama Mbah Buyut Arsanudin dan Mbah Buyut Arsanata. Kedua orang inilah yang menjadi sosok dalam kisah cikal bakal terbentuknya nama Galaherang. Konon katanya, pada waktu itu Mbah Buyut Arsanata menancapkan sebuah tongkat dengan cara berjalan, tongkat itu dimaksud untuk mencari sumber mata air yang sekarang disebut sungai Cigalaherang. Desa Galaherang memiliki luas wilayah ±32 km², berada diketinggian 1000-1500 Mdpl dengan iklim tropis. Secara administratif terdiri dari 6 Rukun Warga dan 11 Rukun Tetangga yang dibagi dalam 6 Dusun. Desa ini memiliki popul...

Top 8 Penghasil Ubi Jalar di Kabupaten Kuningan

  Kuningan News - Kabupaten Kuningan dikenal memiliki potensi pertanian yang kaya, terutama dalam hal produksi ubi jalar. Daerah ini memiliki berbagai kecamatan yang berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan ubi jalar, baik untuk konsumsi lokal maupun regional. Berikut adalah tujuh kecamatan di Kabupaten Kuningan yang mencatat produksi tertinggi untuk komoditas ubi jalar. 1. Kecamatan Cilimus Kecamatan Cilimus berada di peringkat pertama sebagai penghasil ubi jalar terbesar di Kabupaten Kuningan. Dengan produksi sebesar 45.702 ton, Kecamatan Cilimus menyumbangkan hampir setengah dari total produksi ubi jalar di wilayah ini. Kondisi tanah yang subur dan teknik pertanian yang optimal menjadikan Cilimus sebagai sentra utama produksi ubi jalar. 2. Kecamatan Cigandamekar Posisi kedua ditempati oleh Kecamatan Cigandamekar dengan total produksi mencapai 28.966 ton. Daerah ini dikenal dengan pertanian yang beragam dan kualitas ubi jalar yang baik, sehingga mampu bersaing dengan ...