Kuningan News - Belakangan muncul klaim bahwa “10 tahun lalu lereng Gunung Ciremai itu gundul” disertai perbandingan citra satelit yang seolah-olah menunjukkan kondisi lereng yang lebih baik sekarang. Narasi ini digunakan untuk menyimpulkan bahwa Ciremai telah pulih, sehingga kritik masyarakat terhadap kerusakan lereng dianggap berlebihan.
Klaim tersebut tidak tepat, tidak lengkap, dan tidak berdiri di atas konteks ekologis maupun data konservasi.
Pertama, Ciremai bukanlah lahan bebas yang bisa dianalisis hanya lewat tampilan satelit.
Sejak 2004, seluruh kawasan lereng masuk dalam Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kawasan konservasi yang secara hukum wajib menjaga fungsi resapan, hidrologi, dan keanekaragaman hayati. Data TNGC mencatat kawasan ini memiliki lebih dari 100 titik mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Kuningan dan Majalengka.
Menilai kesehatan ekosistem hanya dari citra satelit adalah keliru. Ekologi tidak bekerja dalam piksel. Ia bekerja dalam fungsi.
Kedua, “gundul” dalam narasi tersebut dipakai secara longgar dan tidak ilmiah.
Lahan yang tampak terbuka pada kamera satelit tidak otomatis berarti kerusakan. Banyak zona transisi antara hutan dan pertanian tradisional yang secara alami tampak tidak rimbun, namun tetap menjaga fungsi resapan. Sebaliknya, lahan yang tampak “hijau” bisa saja berisi tanaman cepat tumbuh, monokultur, atau vegetasi non-endemik yang secara fungsi tidak memperbaiki daya serap air tanah.
Hijau bukan berarti sehat.
Dan rimbun bukan berarti berfungsi.
Ketiga, data lapangan hari ini justru menunjukkan tekanan ekologis meningkat.
Jika benar Ciremai sekarang “lebih baik dari 10 tahun lalu”, mengapa debit mata air di desa-desa penyangga justru menurun?
Contoh paling mencolok adalah Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus: lebih dari 1.382 kepala keluarga kini membeli air bersih setiap minggu karena debit mata air tidak lagi mencukupi kebutuhan harian. Desa-desa lain di kaki Ciremai mulai mengandalkan mobil tangki, sesuatu yang tidak terjadi satu dekade lalu.
Ini bukan teori. Ini kenyataan.
Ketika lereng rusak, kran rumah tangga ikut kering.
Keempat, “penghijauan baru” di beberapa lokasi tidak memulihkan kerusakan lama.
Banyak revitalisasi vegetasi dalam dekade terakhir bersifat estetis, rapi di kamera, tetapi miskin fungsi ekologis. Tanaman non-endemik atau pola tanam monokultur tidak memulihkan:
- lapisan tanah berpori yang menyerap air,
- struktur akar berlapis yang menahan longsor,
- atau habitat satwa kecil yang menopang regenerasi hutan.
Itulah mengapa meskipun citra satelit tampak lebih hijau, fungsi hidrologi Ciremai justru melemah. Keringnya mata air adalah bukti paling keras, paling jujur.
Kelima, narasi ini riskan digunakan untuk membenarkan pembukaan ruang dan proyek komersial.
Mengatakan bahwa “dulu gundul, sekarang hijau” adalah narasi yang rawan dipakai sebagai legitimasi untuk:
- membuka kawasan untuk investasi,
- memotong lereng untuk proyek wisata,
- atau mengubah zona konservasi menjadi zona pemanfaatan.
Padahal sejarah konservasi menunjukkan:
sekali lereng rusak, pemulihannya butuh puluhan tahun.
Dan vegetasi yang hijau tetapi dangkal tidak cukup menyelamatkan sumber air.
*Intinya, mari luruskan:*
Ciremai bukan sedang membaik.
Ciremai sedang menahan tekanan.
Dan warga yang tinggal di bawahnya sudah merasakan akibatnya.
Narasi “10 tahun lalu gundul” mengaburkan persoalan yang jauh lebih penting:
fungsi ekologis lereng yang melemah dan krisis air yang makin nyata.
Diskusi harus berbasis data ekologis, bukan ilusi visual.
Karena pada akhirnya, Ciremai bukan sedang diperdebatkan, ia sedang meminta tolong.
Opini oleh: Dadan Satyavadin
