Langsung ke konten utama

Jejak Sejarah dalam Perubahan Fonem, Mengungkap Dinamika Bahasa Austronesia dalam Kehidupan Sehari-hari


Kuningan News – Bahasa adalah cerminan dari perjalanan sejarah dan budaya suatu komunitas. Dalam memahaminya, hukum bunyi memainkan peran penting untuk mengungkap perubahan fonem yang terjadi dalam bahasa-bahasa di kawasan Austronesia. Hukum bunyi dapat diterapkan untuk melihat bagaimana bahasa berkembang dan bertransformasi seiring waktu, serta bagaimana hal tersebut berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kita.

Seperti halnya, Hukum RGH, hokum RGH dapat djelaskan missal, fonem /r/ dalam bahasa Melayu berubah menjadi /g/ dalam bahasa Tagalog atau /h/ dalam bahasa Dayak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mendengar perubahan ini dalam percakapan sehari-hari. Contohnya, dalam kata "podi" yang berarti "padi" dalam bahasa Melayu, kata ini dapat berubah menjadi "pade" dalam bahasa Aceh atau "page" dalam bahasa Batak. Meskipun tampak berbeda, ketiga kata ini berasal dari akar yang sama. Hal ini dapat kita lihat dalam cara orang berbicara di berbagai daerah yang menunjukkan perbedaan fonetik meskipun arti kata tersebut tetap sama.

Selain itu ada juga hukum RG, hokum ini menggambarkan perubahan antarvokal, seperti dalam kata "hudang" dalam bahasa Melayu yang berubah menjadi "ulang" dalam bahasa Tagalog. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan seperti ini sering kita temui dalam sebutan nama tempat atau benda yang berbeda-beda namun saling terkait antar daerah, seperti ketika orang Indonesia menyebut "ulang" dalam konteks ulang tahun, sementara di tempat lain sebutannya bisa bervariasi tetapi tetap merujuk pada konsep yang sama.

Ada juga istilah hukum BW/BWC, yang mencatat hubungan korespondensi antara bunyi /b/, /w/, dan /c/, terlihat dalam kata "tebu" dalam bahasa Melayu yang menjadi "tobu" dalam bahasa Batak atau "tiwu" dalam bahasa Sunda. Hal ini menunjukkan bagaimana variasi bunyi bisa mempengaruhi bentuk kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya, perbedaan cara orang berbicara di berbagai daerah mempengaruhi cara kita menyebutkan benda yang sama, seperti "tebu", yang dalam beberapa bahasa daerah bisa menjadi "tobu" atau "tiwu".

Hukum bunyi tidak hanya menjelaskan perubahan fonem, tetapi juga merekam perjalanan panjang sejarah, budaya, dan interaksi antar masyarakat yang memengaruhi bahasa. Dengan pola yang teratur, hukum ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, dan dapat kita lihat dalam berbagai bentuk percakapan sehari-hari. Mengamati perubahan-perubahan ini memungkinkan kita untuk memahami betapa kaya dan dinamisnya perkembangan bahasa yang ada di sekitar kita.

Penulis : Aditia Fahrul Fauzi (Mahasiswa PBSD UMK)

HOT NEWS

Bupati Diminta Jangan Cuma Menebar Hoax Soal Oknum Calo Perizinan

Kuningan News - Pernyataan Bupati Dian Rachmat Yanuar terkait dugaan adanya oknum perizinan yang bermain, menuai kritik dari Pengamat Kebijakan Daerah, Soejarwo. Ia meminta agar orang nomor satu di kota kuda ini tidak hanya sekadar menebar narasi di ruang publik melainkan harus diiringi tindakan konkrit.  "Jangan cuma menebar narasi di ruang publik seperti itu dong. Buktikan dan berikan sanksi, jika memang sudah mengantongi nama oknumnya. Kalau hanya berkoar-koar, nanti dianggapnya penebar hoax," kata Mang Ewo, sapaan akrabnya. Menurut dia, persoalan integritas dalam pelayanan perizinan tidak cukup diselesaikan melalui peringatan atau pernyataan keras semata. Pemerintah daerah perlu menunjukkan keseriusan melalui penanganan laporan, pemeriksaan dugaan pelanggaran, serta penjatuhan sanksi apabila pelanggaran tersebut terbukti. “Publik tentu menunggu langkah nyata, bukan sekadar pernyataan. Kalau memang ada aparatur yang menyalahgunakan kewenangan, meminta imbalan, atau terlib...

Potret Kekayaan 7 Pengusaha di Kabupaten Kuningan

Kuningan News - Kabupaten Kuningan, meski dikenal dengan keindahan alam dan wisata pegunungannya, juga merupakan rumah bagi beberapa pengusaha yang sukses di berbagai sektor bisnis. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa Kuningan memiliki potensi ekonomi yang berkembang pesat, dipicu oleh inovasi dan ketekunan para pelaku usaha lokal. Salah satu sektor yang dominan di wilayah ini adalah ritel. Beberapa toserba besar menjadi andalan masyarakat Kuningan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para pengusaha yang sukses di sektor ini berhasil mengelola jaringan ritel yang luas dan berkontribusi signifikan terhadap roda perekonomian daerah. Keberhasilan mereka tak lepas dari strategi bisnis yang tepat dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang dinamis. Selain ritel, sektor properti dan konstruksi juga menjadi pilar penting bagi perekonomian Kuningan. Beberapa perusahaan besar di bidang ini terlibat dalam pembangunan infrastruktur yang tidak hanya bermanfaat bagi daerah, tetapi...

Narasi Ilmiah Analisis Dampak Lingkungan Geothermal

  Analisis Dampak Lingkungan Kegiatan Pengembangan Energi Panas Bumi Kuningan News - Pengembangan energi panas bumi (geothermal) merupakan salah satu alternatif penyediaan energi terbarukan yang memiliki potensi besar dalam mendukung transisi menuju sistem energi rendah karbon. Energi panas bumi memanfaatkan panas yang tersimpan di dalam reservoir bawah permukaan untuk menghasilkan energi listrik maupun energi panas secara langsung. Meskipun memiliki keunggulan berupa emisi gas rumah kaca yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil, kegiatan eksplorasi, konstruksi, pengeboran, produksi, hingga pascaoperasi panas bumi tetap berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan sehingga diperlukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara sistematis. Pada tahap eksplorasi dan pengeboran, dampak lingkungan utama dapat berupa perubahan tutupan lahan, pembukaan akses jalan dan well pad, peningkatan erosi dan sedimentasi, gangguan terhadap habitat serta keanekaragama...

Ketua Parpol Didominasi Pria, Jika Amih Tuti Ketua Gerindra Maka Jadi Daya Tarik

Kuningan News - Panasnya suhu di internal Gerindra Kuningan seiring momen bursa ketua partai, memantik pihak luar turut mengeluarkan pandangannya. Salah satunya, Soejarwo, pengamat daerah yang kerap memantau pergerakan politik di kota kuda.  "Saya melihat sekarang ini ketua parpol di Kuningan didominasi kaum pria. Nah, kalau Amih Tuti (Hj Tuti Andriani) yang ditunjuk, maka ini bakal jadi daya tarik tersendiri," ujar pria yang akrab disapa Mang Ewo itu, Senin (12/10/2026).  Keberadaan sosok perempuan sebagai pucuk pimpinan parpol terlebih sebagai sosok pimpinan eksekutif (wakil bupati), menurut dia, juga akan mengingatkan masyarakat terhadap sosok Almarhumah Hj Utje Ch Suganda saat memimpin Kuningan, dengan sentuhan lembut keibuan. "Wajar kalau akan banyak pihak yang gerah dan terusik jika Amih Tuti yang terpilih. Karena banyak kelebihannya. Patut diduga keras, ada yang akan merasa "kurang nyaman", jika DPP Gerindra akhirnya mempercayakan kepadanya untuk menjadi...

Dua Pabrik Sepatu Dapat Menyerap Belasan Ribu Tenaga Kerja

  Kuningan News – Dua pabrik sepatu berskala multinasional direncanakan bakal berdiri di Kabupaten Kuningan. Hal itu diamini Kepala DPUTR Kuningan I Putu Bagiasna MT. Ia mengamini, ada setidaknya 3 perusahaan besar yang melirik Kuningan sebagai pabrik, dimana dua diantaranya adalah pabrik sepatu, sementara satu adalah pabrik garmen. Putu Bagiasna, mulanya menjelaskan progress Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang saat ini tinggal menunggu Persub. Dalam draft Revisi RTRW itu, dimuat beberapa wilayah yang dicanangkan Pemkab Kuningan sebagai KPI (Kawasan Peruntukan Industri). Putu menjamin, KPI itu berada di lahan tidak produktif seperti Cidahu, Cimahi, serta sebagian Kecamatan Japara. “RTRW kami belum direvisi sejak 15 tahun lalu. Terakhir Perda 26 tahun 2011. Kami berharap,  tahun ini kita akan merevisi pekerjaan besar, RTRW 2026-2046,” kata Putu Kamis (25/9/2026). Di dalam revisi RTRW tersebut, sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat serta tingkat kebutu...

Diwarnai Kontroversi VAR, Argentina Sukses Tumbangkan Mesir Lewat 'Comeback' Dramatis

Kuningan News – Kemenangan penuh drama Timnas Argentina atas Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyisakan polemik. Laga panas yang berakhir dengan Come Back ini diwarnai oleh sejumlah keputusan teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang diprotes keras Mesir. Bertanding di Atlanta pada Selasa (7/7/2026), Argentina sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu sebelum akhirnya bangkit dan menang dengan skor tipis 3-2. Namun, sorotan utama tertuju pada jalannya babak kedua setelah gol Mesir dianulir dan klaim penalti mereka diabaikan wasit. Kontroversi pertama mencuat saat Mesir tengah memimpin 1-0 melalui skema serangan cepat. Pemain Mesir, Mostafa Zico, sempat menggetarkan jala gawang Argentina setelah menerima umpan matang dari sang kapten, Mohamed Salah. Akan tetapi, wasit François Letexier langsung melakukan peninjauan lewat layar VAR di pinggir lapangan. Wasit asal Prancis itu menganulir gol tersebut karena menilai telah terjadi pelanggaran oleh pemain Mesir dalam proses awa...

Top 8 Penghasil Ubi Jalar di Kabupaten Kuningan

  Kuningan News - Kabupaten Kuningan dikenal memiliki potensi pertanian yang kaya, terutama dalam hal produksi ubi jalar. Daerah ini memiliki berbagai kecamatan yang berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan ubi jalar, baik untuk konsumsi lokal maupun regional. Berikut adalah tujuh kecamatan di Kabupaten Kuningan yang mencatat produksi tertinggi untuk komoditas ubi jalar. 1. Kecamatan Cilimus Kecamatan Cilimus berada di peringkat pertama sebagai penghasil ubi jalar terbesar di Kabupaten Kuningan. Dengan produksi sebesar 45.702 ton, Kecamatan Cilimus menyumbangkan hampir setengah dari total produksi ubi jalar di wilayah ini. Kondisi tanah yang subur dan teknik pertanian yang optimal menjadikan Cilimus sebagai sentra utama produksi ubi jalar. 2. Kecamatan Cigandamekar Posisi kedua ditempati oleh Kecamatan Cigandamekar dengan total produksi mencapai 28.966 ton. Daerah ini dikenal dengan pertanian yang beragam dan kualitas ubi jalar yang baik, sehingga mampu bersaing dengan ...